HUT LVRI Ke-67, Sambutan Wantimba LVRI Provinsi Jawa Timur

Dirgahayu LVRI Ke-67, DHD BPK Provinsi Jawa Timur mengucapkan dalam bentuk ucapan selamat dan kehadiran dalam resepsi HUT LVRI Provinsi Jawa Timur ke-67 pada Tanggal 16-01-2024 bertempat di Kantor LVRI di Komplek Gedung Juang 45 Jatim. 

Ikut berdoa semoga LVRI tetap Jaya. 




Drs. Ismadi, MBA, M.Si - Ketua DPD LVRI Provinsi Jatim




Soeryadi Setiawan - Wantimba DPD LVRI Provinsi Jatim





Peserta HUT LVRI Ke-67



Ketua Umum, Sekum DHD BPK 45 Jawa Timur hadir dalam HUT LVRI Ke-67



Sambutan Wantimda

Pada HUT LVRI, 02 JAN 2024

Assalamualaikum Wr Wb

Merdeka!

Yang terhormat Bp. Ketua, para Wakil Ketua dan segenap Pengurus DPD LVRI Jatim

Bapak-bapak/Ibu-ibu serta para Senior dan para tamu undangan yang saya hormati

Hadirin sekalian yang berbahagia

Puji Syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan YME yang hari ini menganugerahkan kepada kita semua kesehatan yang baik sehingga dapat menghadiri acara ini. Marilah kita semua dengan bersyukur dan gembira sama-sama mengucapkan : “Dirgahayu LVRI pada hari jadinya yang ke – 67” yang tepatnya tanggal 2 Jan 2024 yang lalu. Semoga LVRI tetap jaya…jaya…jaya. Aamiin.

Terima kasih bahwa kepada saya diberikan waktu untuk memberikan sambutan ini.

Hadirin yang saya hormati,

Seperti sering kita dengarkan dari petinggi-petinggi negara dan dari berbagai pihak, saat ini kita telah memasuki tahun politik. Artinya tahun-tahun dimana terjadi banyak pembicaraan dan munculnya aneka masalah politik yang menjadi “topik” perhatian di masyarakat.

Menurut saya justru saat ini bukan tahun politik lagi, tetapi hari-hari, jam-jam, dan saat-saat politik. Setiap saat ada masalah-masalah yang berkaitan dengan politik.

Untuk kali ini sebagai orang yang sudah berusia tua, saya akan berbicara agak Panjang. Mohon maaf dan mohon kesabarannya.

Sebentar lagi, tgl 14 Feb 2024 bersamaan kaum pemuda merayakan “Valentine’s day” atau “Hari Kasih Sayang”, kita semua seluruh rakyat Indonesia akan memberikan suara dalam rangka “Hari Kasih Suara” di TPS-TPS yang tersedia.

Kalau diandaikan dalam kehidupan militer, Pemilu di hari itu adalah “puncak

pertempuran”, tetapi ini dibidang politik. Hari itu adalah hari yang menentukan siapa pemenang dan siapa yang kalah dalam menarik simpati rakyat. Siapa yang memenangkan

perlombaan, persaingan, pertentangan atau bahkan mungkin persengketaan antar partai politik merebut hati rakyat. Tentu saja kita semua berharap pemenang “perangnya” adalah yang terbaik, yang mampu membawa bangsa dan negara kita kedepan benar-benar menjadi negara demokratis, adil, makmur, sejahtera, dan Bahagia. Harapan ini tentu selalu kita mohonkan karena faktanya hari akhir-akhir ini justru “suasana suram” yang kita rasakan.

Hadirin sekalian

Pada th 1926 Bung Karno menulis dalam buku “Dibawah Bendera Revolusi” yang menyebutkan bahwa “format politik” di Indonesia pada saat itu yang menonjol adalah “Nasionalisme, Islamisme, dan Sosialisme” (Nasisos), bukan “Nasionalisme, Agama, dan Komunisme” (Nasakom). Semuanya “Religius”. Tetapi kemudian ada yang berkembang menjadi titik religius lagi, tidak percaya adanya Tuhan, Sosialisme menjadi Komunisme.

Maka muncullah sejak sekitar th 1959 istilah Nasakom yang popular s/d th 1965.

Cerminan format politik seperti itu hari ini masih kita dapatkan. Apabila kita andaikan yang Islamisme itu sebagai warna hijau atau kanan, Nasionalisme warna kuning atau tengah- tengah dan yang Sosialisme warna merah atau kiri, hari ini warna-warna itu tidak utuh berdiri sendiri-sendiri, tetapi berpisah bergabung disana sini satu dengan yang lain, cerai berai, campur aduk. Akibatnya ideologi masing-masing partai politik juga tidak terlihat nyata.

Dimasing-masing kelompok warna tsb ada yang warna cerah, warna muda dan warna pekat. Kelompok hijau atau kanan dulu pernah ada yang hijau pekat atau kanan ekstrim. Kelompok ini telah berusaha secara konstitusional ingin mendirikan Negara Islam. Memasukkan 7 (tujuh) kata dalam pembahasan ideologi Pancasila. Tetapi dengan kesadaran yang tinggi demi keutuhan bangsa dan negaranya kelompok ini meninggalkan keinginan itu. Dasar pijakannya adalah mengakui Pancasila yang lahir 22 Juni 1945. Kelompok ini dulu ada juga yang berusaha dengan cara ekstrim melalui DI/TII ingin tetap mendirikan NII, Negara Islam Indonesia. Di luar negeri kelompok ekstrim yang fanatik dengan Agama Islam ini sering disebut kelompok fundamentalis atau ISIS dll.

Kelompok sosialis merah pekat atau kiri ekstrim pada th 1926, 1948, dan 1965 secara keras ingin berkuasa di pemerintahan dengan melakukan pemberontakan. Tentu ini tidak konstitusional apalagi demokratis. Ditumpas. Kelompok ini mendasarkan ideologinya dengan Pancasila 1 Juni 1945 adalah Pancasila yang menurutnya paling benar dan dapat diperas-peras menjadi Trisila kemudian diperas lagi menjadi Ekasila atau “Gotong Royong”.

Jadi kelompok ini tidak atau bukan menempatkan gotong royong hanya sebagai “budaya” bangsa kita, tetapi gotong royong adalah “ideologinya” atau “alat perjuangan” sesuai dengan keyakinan bahwa “perasan akhir” dari ideologi Pancasila 1 Juni 1945 adalah “gotong royong” tsb. Apakah kelompok ini masih ingin mendapatkan kekuasaaan pemerintahan untuk waktu-waktu yang akan datang ? mungkin saja masih. Sifatnya harus konstitusional.

Kelompok yang ditengah atau warna kuning, tidak kekanan atau kekiri tetapi ada juga didalamnya atau dari luar kelompoknya berusaha menariknya agar bersedia di bawa kekanan atau kekiri. Ideologinya berdasarkan Pancasila 18 Agustus 1945.

Akibat keyakinan Pancasila yang berbeda-beda rumusan ini menimbulkan pula cita-cita yang berbeda Ketika berkuasa di pemerintahan dalam membawa bangsa serta negaranya ke masa depan.

Hadirin sekalian

Tentu saja setiap partai politik ingin memegang kekuasaan pemerintahan dengan ideologi Pancasila masing-masing sesuai yang diyakini tsb. Artinya bangsa dan negara sangat mungkin bisa dibawa kekanan/hijau, kekiri/merah, atau ditengah-tengah/kuning.

Inilah kelemahan kita karena ternyata kelompok pengemban kekuasaan pemerintahan kita yaitu partai-partai politik tidak mempunyai landasan dan tujuan atau cita-cita yang sama.

Dan hal semacam ini sudah hampir 80 (depalan puluh) tahun terjadi, masih bisa berkembang sampai ratusan tahun kedepan. Akibatnya, kedepan kekuasaan pemerintah tidak mendapatkan “kestabilan” yang lama tetapi terpenggal. Karena itu terpaksa Pembangunan untuk kepentingan bangsa dan negara pun dapat terpenggal-penggal juga.

Padahal kalau “ideologi” sudah sama, artinya cita-cita kedepan sudah sama, yaitu sesuai rumusan Pancasila 18 Agustus tinggalan the founding fathers atau para pendiri bangsa dan negara, partai-partai tinggal berlomba adu program Pembangunan. Tidak dibebani masalah ideologi lagi, berubah ideologi lagi. Itulah juga seharusnya yang akan tercermin dari hasil

Pemilu yang akan datang, khususnya Pilpres/Cawapres.

Karena itu Pemilu tgl 14 Feb 2024 yang akan datang sangat penting dan strategis karena akan menentukan siapa “pelanjut pemegang kekuasaan pemerintahan” yang akan menentukan perjalanan bangsa dan negara ini. Akankah kita dibawa ke suasana hijau, kuning atau merah? sebetulnya kemanapun kita dibawa asal ke yang tidak pekat/ekstrim rasanya tidak terlalu membahayakan kehidupan masa depan kita. Pendulum atau jarum jam yang bergeser kekiri atau kekanan, kita kembalikan netral ketengah-tengah. Bahwa sesekali bersinggungan dengan batas kanan atau batas kiri, tidak mengapa. Biasa, normal saja.

Hadirin sekalian

Hijau yang pekat atau kanan yang ekstrim yang saat ini terjadi di negara lain ternyata tidak membawa kebaikan, ketentraman, kedamaian, kesejahteraan dan kebahagiaan rakyatnya.

Demikian pula merah yang pekat atau kiri yang ekstrim.

Belajar dari perjalanan Sejarah kita masa lalu dan kejadian dibanyak belahan bumi yang lain, maka jarum jam atau pendulum politik yang saat ini kita rasakan “agak kekiri” nampaknya perlu sedikit kita geser kekanan kearah Tengah. Jangan kanan yang kebablasan yang pekat atau ekstrim. Sekali lagi ketengah-tengah saja sudah terasa yang terbaik.

Inilah keadaan yang menurut saya yang kita harapkan dari hasil Pemilu yang akan datang.

Saudara-saudara yang saya hormati

Saat ini dikelompok satu yang belum pernah atau baru sedikit berkecimpung di kekuasaan pemerintahan mengusung tema perubahan ada warna kuning dan hijau. Tidak terlihat warna yang pekat atau ekstrim baik hijau pekat maupun kuning pekat disana. Perubahan yang diusung mudah-mudahan untuk kebaikan masa depan bangsa dan negara.

Dikelompokkan ke dua yang mengusung Indonesia maju ada warna kuning, hijau dan merah.

Tidak ada yang pekat. Ini dari segi ideologi. Kelompok ini sudah terbiasa berada di kekuasaan pemerintahan. Tetapi kekuasaan pemerintah itu bukan hanya membawa misi “ideologi” saja, juga akan membawa lengkap misi perjuangan yang lain dibidang “ipoleksosbudmil”. Dari segi ideologi tidak ada yang pekat, tetapi dari aspek “poleksosbudmil”, menurut saya perlu perhatian, karena ada warna pekatnya. Kalau kelompok ini “menang Pemilu”, perlu dianalisa bagaimana kira-kira perkembangan kedepan di masalah-masalah ekonomi, politik/hukum, sosial, budaya dan hankam ? Apa kira-kira yang akan terjadi ? Menurut saya banyak kesuraman dan kemuraman. Adanya tokoh elite dikelompok ini yang bisa berbuat apa saja yang “paling” diantaranya paling nekat dan memalukan dapat membahayakan masa depan. Sering menghujat perbuatan masa lalu tetapi justru melakukan perbuatan yang lebih buruk telah mereka lakukan. KKN dikelompok ini telah berkembang pesat dan dilakukan dengan semakin terbuka dan percaya diri. Dan paling mengerikan adalah “kekuasaan yang mestinya harus menuruti aturan hukum dikelompok ini menjadikan hukum diatur oleh kekuasaan”. Karena ini silahkan anda masing-masing menganalisa, mungkin bisa berbeda. Kelompok ketiga warna merah menyatu dengan hijau. Bahkan diantara warna merah menyala tsb terlihat ada yang pekat. Didalamnya pernah ada yang berusaha mengganti ideologi Pancasila dengan Pancasila yang dapat diperas-peras menjadi ideologi “Gotong Royong” yang pernah dimanfaatkan oleh PKI menjelang G 30S/PKI th 1965.

Pada sekitar th 2018 – 2019 beberapa kader dikelompok ini mencoba melalui DPR RI secara konstitusional akan mengubah Pancasila 18 Agustus 1945 dengan Pancasila 1 Juni 1945.

Negara sempat berguncang. Sampai-sampai Mantan Ketum LVRI Bp. Jendral (Purn) Rais Abin (alm) dan Jenderal (Purn) Widjojo Sujono (alm) beserta mantan petinggi-petinggi TNI yang lain turun gunung bertemu Pres Joko Widodo. Rencana dan maksud mengubah Pancasila dapat digagalkan. Sementara yang saat ini berhasil adalah memasyarakatkan bahwa Pancasila itu lahir tgl 1 Juni 1945 yang dimulai sejak pertengahan 2016. Ini perlu diwaspadai mengapa dan untuk apa Pancasila yang lahir tanggal 1 Juni ini yang diakui ?

Mudah-mudahan Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober 1965 dan Monumen Pancasila Sakti di Lubang Buaya tidak hilang ditelan keputusan politik dan waktu.

Maka pastikan mana menurut Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang terbaik. Saya hanya menunjukkan identitas siapa yang akan anda pilih. Terserah saja yang anda pilih. Datang ke TPS jangan pasif dirumah saja.

Saudara-saudara sekalian

Sebagai pribadi yang pernah berjuang untuk negeri ini, kita semua biasa memiliki perjuangan yang tiada ujung akhir. Perjuangan kita demi tegaknya NKRI, Bhinneka Tunggal Ika, Pancasila dan UUD 1945 tidak pernah berakhir. Tentu saja dalam batas-batas kemampuan kita. Terutam fisik kita. Kita juga harus menyukseskan Pemilu yang akan datang. Pres/Wapres yang menurut kita terbaik. Jangan apatis, masa bodoh atau terserahsaja. Itu bukan sifat kita sebagai ksatria. Ksatria harus punya sikap yang diyakininya. Dan meskipun kita sudah tua dan renta, sikap itu masih kita miliki.

Mari Bersama datang ke TPS. Bersama keluarga dan handai taulan. Ajaklah siapa saja disekitar atau dilingkungan Bapak-bapak dan Ibu-ibu berangkat ke TPS. Sekali lagi jangan “berserah” menunggu apa yang akan terjadi. Hasilnya bisa sia-sia.

Demikian sambutan saya. 

Merdeka !

Wassalamualaikum wr. Wb

Wantimda

Soeryadi Setiawan


Comments

Popular posts from this blog

MUSDA DHD BPK 45 JAWA TIMUR KE-XIV - ( 2022-2027 )